By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Desa BulukertoDesa BulukertoDesa Bulukerto
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Bulukerto
  • Profil Desa
    • SEJARAH
    • VISI MISI
    • KEPALA DESA
  • Statistik
  • Lembaga Desa
    • PKK
    • RT – RW
    • LPMD
  • Informasi Publik
  • Berita
  • Pengaduan
Reading: SEJARAH
Share
Font ResizerAa
Desa BulukertoDesa Bulukerto
  • Berita
Search
  • Home
  • Profil Desa
    • Sejarah Bulukerto
    • Visi Misi
    • Kepala Desa
  • Statistik
  • Pengaduan
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026
Desa Bulukerto > Blog > Profil Desa > SEJARAH
Profil Desa

SEJARAH

Bulukerto Istimewa
SHARE

Asal Usul Desa
Pada suatu hari ada pejabat kerajaan Majapahit yang turun ke desa-desa, pejabat kerajaan itu bernama Mbah Jagal Abilowo. Di tengah-tengah beliau turun ke desa-desa beliau singgah di bawah pohon Bulu untuk Istirahat. Beberapa tahun kemudian ada kejadian aneh yang menimpa keluarga Mbah Jagal Abilowo,
kejadian aneh itu vaitu pada suatu hari istri Mbah Jagal Abilowo pergi ke pasar, sebelum pergi ke pasar istri Mbah Jagal Abilowo berpesan kepada anak-nya yang tertua yaitu “tolong adikmu dirumat (dirawat untuk dimandikan)” karena anaknya yang tertua tadi pikirannya masih polos dan lugu adiknya tadi dirumat dengan cara dipegang, lalu ditumbuk (dideplok) dengan lumpang dan alu. Setelah adiknya ditumbuk dan hancur lalu dimasak untuk dijadikan lauk pauk berupa dendeng (daging dendeng).


Selang beberapa jam kemudian ibunya datang dari pasar dan memasak
untuk keluarga, setelah selesai memasak anak-anaknya diajak untuk makan
bersama-sama. Makan bersama pun telah usai dan perut telah kenyang. sang ayah
bertanya kepada anaknya yang tertua “dimana adikmu?” jawab anak yang tertua
tadi bahwa adiknya sudah dirumar (dimasak) untuk makan. mendengar jawaban
anaknya yang tertua tadi ayahnya terkejut dan marah sekali melihat anaknya
menjadi dendeng. Sampai akhirnya alat-alat yang digunakan untuk menumbuk
yaitu lumpang dan alu dilempar dan jatuh di Dusun Payan Desa Punten dan
alunya tadi menancap ditanah tumbuh menjadi Pohon Lo.
Dikemudian hari diadakan pemilihan Petinggi (Kepala Desa), ada 3 (tiga)
calon Petinggi (Kepala Desa) yang mengikuti pemilihan dimana ketiga calon
Petinggi (Kepala Desa) tersebut telah sepakat bahwa apabila nanti terpilih menjadi
Petinggi (Kepala Desa) maka desa tersebut akan diberi nama sesuai namanya
masing-masing.
Pada akhirnya yang terpilih menjadi Petinggi (Kepala Desa) adalah P.
Kerto Wiryo, sehingga berkaitan dengan kejadian sebelumnya yaitu Pohon Bulu
yang dipakai berteduh (gubug) dan hasil pemilihan Petinggi (Kepala Desa) yang
terpilih P. Kerto Wiryo maka desa tersebut diberi nama BULUKERTO.
Nama BULUKERTO berasal dari kata “BULU = Pohon Bulu” dan
“KERTO = Ramai”. Jadi BULUKERTO berarti Pohon Bulu yang ramai
dikunjungi dan dikelilingi oleh beberapa pedukuhan. Tempat dimana Pohon Bulu
berada. memang selalu ramai didatangi orang terutama pada hari malam Jumat
Legi. Mereka datang untuk mengadakan selamatan yang tujuannya adalah ucapan

syukur kepada arwah si Bedah Kerawang yang telah berjasa membuka desa
merestui perkembangan desa hingga saat ini.
Dimana bersamaan dengan robohnya Pohon Bulu tersebut, kepala desa
sebelum kepala desa yang sekarang ini meninggal dunia. Sebagai penghormatan
di tempat dimana Pohon Bulu itu roboh, sekarang telah dibangun altar dari semen
yang biayanya diperoleh dari swadaya masyarakat desa. Perlu diketahui bahwa si
Bedah Kerawang tersebut dahulu juga dimakamkan dibawah Pohon Bulu dan
hingga saat ini tempat keramat tersebut terkenal dengan sebutan “PUNDEN”.
Desa Bulukerto terdiri dari beberapa pedusunan dimana masing-masing
pedusunan memiliki beberapa pedukuhan, masing-masing pedukuhan memiliki
sejarah dan latar belakang yang berbeda-beda: Dari sekian banyak pedukuhan
tersebut, dukuh Buludendeng yang merupakan sentral daripada terbentuknya Desa
Bulukerto.
a. Dusun Cangar
Cangar berasal dari kata “CINGUR = Cangar” Cingur yang dimaksud
disini tidak lain adalah cingur sapi yang letak-nya pada bagian kepala sapi.
Dahulu kala Cangar adalah suatu hutan lebat, yang mana hal ini merupakan
senjata terbaik bagi para pencuri sapi untuk menghilang atau menghindarkan diri
dari pengejaran orang-orang desa. Setiap sapi yang hilang pasti dilarikan ke hutan
tersebut dan pengejarnya akan pulang dengan tangan hampa. Kejadian ini
menyebabkan kegelisahan bagi warga desa yang bertempat tinggal disekitar hutan
tersebut. Bagi pencuri itu sendiri hasil curiannya dijagal di tempat itu, dimana
bagian kepala sapinya digantungkan pada pohon di pinggiran hutan sedangkan
dagingnya dijual ke pasar.
Peristiwa ini menimbulkan perasaan tanda tanya bagi warga desa, terutama
mereka yang kehilangan sapinya. Anehnya pada keesokan harinya bagian kepala
sapi tersebut selalu didapatinya tergantung pada pohon-pohon dipinggir hutan.
Kejadian ini bagi si Bedah Kerawang dijadikannya sebagai dasar untuk
memberikan nama bagi desa yang dibukanya. Karena banyaknya “CONGOR” =
Cingur sapi yang terdapat pada hutan tersebut maka si Bedah Kerawang
menamakan dusun yang dibentuknya itu dengan sebutan dukuh “CANGAR”.

Di dalam Dusun Cangar terdapat satu dukuh yaitu : Grinting berasal dari
nama sejenis rumput yaitu “Rumput Grinting”. Dahulu pada waktu bedah
karawang meninggal, jenazah dimakamkan di dukuh tersebut. Karena makam
tersebut kurang terpelihara, maka pada bagian pusara dari pada makam tersebut
banyak bertumbuhan Rumput Gerinting. Untuk mengenang jasa-jasa si bedah
kerawang maka tempat tersebut dinamakan dukuh “Grinting”.
b. Dusun Keliran
Keliran berasal dari kata “Kelir/Warna”. Sebutan Keliran diberikan karena
pada jaman dahulu Bedah Kerawang itu kesehariannya ngelir/mewarna.
Sedangkan dari versi yang lain, nama keliran berasal dari kata “Kelir” atau tirai
yang digunakan untuk pertunjukan wayang. Karena menurut keterangan para
sesepuh dusun kliran, di dusun keliran pada zaman dahulu terdapat “Gong’ gaib
yang tidak nampak atau kasat mata yang di-gunakan untuk pertunjukan wayang.
Tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa nama keliran diambil dari kata
“kelir/berwarna”. Hal tersebut dikarenakan pada jaman dahulu perilaku/sifat
warga masyarakat dakuh kliran bermacam-macam atau berwarna-warni, sehingga
dinamakan dukuh Keliran. Di dalam Dusun Keliran terdapat satu dukuh yaítu :
Gemulo berasal dari kata “Gemuleng” yang berarti asap yang mengepul
ngepul berkumpul menjadi satu. Maksudnya di tempat tersebut terdapat sebuah
mata air yang dapat memberikan kehidupan bagi 3 (tiga ) dukuh. Untuk
mengucapkan rasa terima kasih itu, maka pada saat tertentu mereka datang untuk
mengadakan selamatan dan menaruh sesajen pada tempat tersebut yang sering
disebut dengan “Umbul”. Banyaknya orang orang yang saling berkumpul
diibaratkan seperti asap yang gemuleng, kejadian ini mengakibatkan lahirnya
sebuah pedukuhan yang disebut “Gemulo”.
c. Dusun Buludendeng
Buludendeng berasal dari kata “BULU” Pohon Bulu dan “DENDENG”
sejenis makanan. Buludendeng artinya seorang anak yang didendeng disebelah
pohon bulu. Adapun ceritanya adalah sebagai berikut : Konon dahulu kala
hiduplah seorang ayah yang memiliki 2 (dua) orang anak, satu perempuan

(kakaknya), adiknya (adiknya) masih bayi. Suatu ketika sang ayah hendak
bepergian dan sebelum meninggalkan rumah beliau berpesan kepada putrinya
“anakku selama ayah tinggal pergi, adikmu ini “rumaten” (dirawat) yang baik”.
Kata rumaten dikiranya “Rumaten” yang berarti ditumbuk-tumbuk/didendeng.
Maka setelah sang ayah pergi, segeralah si putri tersebut menunaikan tugasnya.
Diambilnya sebilah pisau dan disembelihlah adiknya dibawah pohon bulu.
Setelah disembelih, anak tersebut kemudian didendeng, yang kemudi-an
dihidangkan kepada ayahnya sewaktu pulang. Karena badan letih dan perut lapar
dimakanlah masakan dendeng tersebut dengan lahap. Selesai makan sang ayah
menanyakan anak laki-lakinya kepada putrinya. Kemudian oleh putrinya tersebut
dijawab, bahwa masakan dendeng yang telah dilahapnya tadi adalah berasal dari
anaknya sendiri. Dari peristiwa ini oleh si bedah kerawang dijadikan dasar untuk
memberikan kepada nama sebuah dusun yaitu Dusun “BULUDENDENG”. Di
dalam Dusun Buludendeng terdapat satu dukuh, yaitu Rekesan berasal dari kata
“REKES” ( dari bahasa Belanda ) yang artinya períjinan. Jadi terbentuknya dukuh
rekesan berdasarkan ijin dari Pemerintah Belanda pada tahun 1934.
d. Dusun Gintung
Gintung berasal dari nama sejenis pohon hutan yang sangat besar. Oleh
karena si Bedah Karawang pohon tersebut dinamakan pohon “Gintungan”. Dari
nama pohon tersebut dijadikan sebuah dukuh yang diberi nama “Gintung”.
Gintung meliputi pedukuhan Gintung dan Sambong.

VISI MISI
KEPALA DESA
Share This Article
Facebook Email Print

Follow Us

InstagramFollow
YoutubeSubscribe
WhatsAppFollow

Layanan Online

Akta Kelahiran

Kartu Keluarga

Pembuatan SKCK

Surat Pindah Pergi

Pelayanan KTP

Surat Nikah (Laki-laki)

Surat Nikah (Perempuan)

Surat Keterangan Tidak Mampu

Perubahan Kartu Keluarga

Surat Keterangan Pindah Datang

Surat Keterangan Penghasilan

Surat Keterangan Usaha

Akta Kematian

Surat Izin Keramaian

- Advertisement -
Ad imageAd image
Instagram Youtube Whatsapp

Jl. Mbah daim No.2, Bulukerto, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur 65334, Indonesia

  • 0822 4569 4422
  • 0822 4569 4422
  • desa.bulukerto.bumiaji@gmail.com
© 2026. Desa Bulukerto - Kota Batu - Jawa Timur.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?