ASAL USUL DESA
Pada suatu hari ada pejabat kerajaan Majapahit yang turun ke desa-desa, pejabat kerajaan itu bernama Mbah Jagal Abilowo. Di tengah-tengah beliau turun ke desa-desa beliau singgah di bawah pohon Bulu untuk Istirahat. Beberapa tahun kemudian ada kejadian aneh yang menimpa keluarga Mbah Jagal Abilowo,kejadian aneh itu vaitu pada suatu hari istri Mbah Jagal Abilowo pergi ke pasar, sebelum pergi ke pasar istri Mbah Jagal Abilowo berpesan kepada anak-nya yang tertua yaitu “tolong adikmu dirumat (dirawat untuk dimandikan)” karena anaknya yang tertua tadi pikirannya masih polos dan lugu adiknya tadi dirumat dengan cara dipegang, lalu ditumbuk (dideplok) dengan lumpang dan alu. Setelah adiknya ditumbuk dan hancur lalu dimasak untuk dijadikan lauk pauk berupa dendeng (daging dendeng).

Selang beberapa jam kemudian ibunya datang dari pasar dan memasak untuk keluarga, setelah selesai memasak anak-anaknya diajak untuk makan bersama-sama. Makan bersama pun telah usai dan perut telah kenyang. sang ayah bertanya kepada anaknya yang tertua “dimana adikmu?” jawab anak yang tertua tadi bahwa adiknya sudah dirumar (dimasak) untuk makan. mendengar jawaban anaknya yang tertua tadi ayahnya terkejut dan marah sekali melihat anaknya menjadi dendeng. Sampai akhirnya alat-alat yang digunakan untuk menumbuk yaitu lumpang dan alu dilempar dan jatuh di Dusun Payan Desa Punten dan alunya tadi menancap ditanah tumbuh menjadi Pohon Lo. Dikemudian hari diadakan pemilihan Petinggi (Kepala Desa), ada 3 (tiga) calon Petinggi (Kepala Desa) yang mengikuti pemilihan dimana ketiga calon
Petinggi (Kepala Desa) tersebut telah sepakat bahwa apabila nanti terpilih menjadi Petinggi (Kepala Desa) maka desa tersebut akan diberi nama sesuai namanya
masing-masing.

Pada akhirnya yang terpilih menjadi Petinggi (Kepala Desa) adalah P. Kerto Wiryo, sehingga berkaitan dengan kejadian sebelumnya yaitu Pohon Bulu yang dipakai berteduh (gubug) dan hasil pemilihan Petinggi (Kepala Desa) yang terpilih P. Kerto Wiryo maka desa tersebut diberi nama BULUKERTO.

Nama BULUKERTO berasal dari kata “BULU = Pohon Bulu” dan “KERTO = Ramai”. Jadi BULUKERTO berarti Pohon Bulu yang ramai dikunjungi dan dikelilingi oleh beberapa pedukuhan. Tempat dimana Pohon Bulu berada. memang selalu ramai didatangi orang terutama pada hari malam Jumat Legi. Mereka datang untuk mengadakan selamatan yang tujuannya adalah ucapan syukur kepada arwah si Bedah Kerawang yang telah berjasa membuka desa merestui perkembangan desa hingga saat ini. Dimana bersamaan dengan robohnya Pohon Bulu tersebut, kepala desa sebelum kepala desa yang sekarang ini meninggal dunia. Sebagai penghormatan di tempat dimana Pohon Bulu itu roboh, sekarang telah dibangun altar dari semen yang biayanya diperoleh dari swadaya masyarakat desa. Perlu diketahui bahwa si Bedah Kerawang tersebut dahulu juga dimakamkan dibawah Pohon Bulu dan hingga saat ini tempat keramat tersebut terkenal dengan sebutan “PUNDEN”.

Desa Bulukerto terdiri dari beberapa pedusunan dimana masing-masing pedusunan memiliki beberapa pedukuhan, masing-masing pedukuhan memiliki sejarah dan latar belakang yang berbeda-beda: Dari sekian banyak pedukuhan tersebut, dukuh Buludendeng yang merupakan sentral daripada terbentuknya Desa Bulukerto.

a. Dusun Cangar
Cangar berasal dari kata “CINGUR = Cangar” Cingur yang dimaksud disini tidak lain adalah cingur sapi yang letak-nya pada bagian kepala sapi. Dahulu kala Cangar adalah suatu hutan lebat, yang mana hal ini merupakan senjata terbaik bagi para pencuri sapi untuk menghilang atau menghindarkan diri dari pengejaran orang-orang desa. Setiap sapi yang hilang pasti dilarikan ke hutan tersebut dan pengejarnya akan pulang dengan tangan hampa. Kejadian ini menyebabkan kegelisahan bagi warga desa yang bertempat tinggal disekitar hutan tersebut. Bagi pencuri itu sendiri hasil curiannya dijagal di tempat itu, dimana bagian kepala sapinya digantungkan pada pohon di pinggiran hutan sedangkan dagingnya dijual ke pasar. Peristiwa ini menimbulkan perasaan tanda tanya bagi warga desa, terutama mereka yang kehilangan sapinya. Anehnya pada keesokan harinya bagian kepala sapi tersebut selalu didapatinya tergantung pada pohon-pohon dipinggir hutan.

Kejadian ini bagi si Bedah Kerawang dijadikannya sebagai dasar untuk memberikan nama bagi desa yang dibukanya. Karena banyaknya “CONGOR” = Cingur sapi yang terdapat pada hutan tersebut maka si Bedah Kerawang menamakan dusun yang dibentuknya itu dengan sebutan dukuh “CANGAR”. Di dalam Dusun Cangar terdapat satu dukuh yaitu : Grinting berasal dari nama sejenis rumput yaitu “Rumput Grinting”. Dahulu pada waktu bedah karawang meninggal, jenazah dimakamkan di dukuh tersebut. Karena makam tersebut kurang terpelihara, maka pada bagian pusara dari pada makam tersebut banyak bertumbuhan Rumput Gerinting. Untuk mengenang jasa-jasa si bedah kerawang maka tempat tersebut dinamakan dukuh “Grinting”.

b. Dusun Keliran
Keliran berasal dari kata “Kelir/Warna”. Sebutan Keliran diberikan karena pada jaman dahulu Bedah Kerawang itu kesehariannya ngelir/mewarna. Sedangkan dari versi yang lain, nama keliran berasal dari kata “Kelir” atau tirai yang digunakan untuk pertunjukan wayang. Karena menurut keterangan para sesepuh dusun kliran, di dusun keliran pada zaman dahulu terdapat “Gong’ gaib yang tidak nampak atau kasat mata yang di-gunakan untuk pertunjukan wayang.

Tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa nama keliran diambil dari kata “kelir/berwarna”. Hal tersebut dikarenakan pada jaman dahulu perilaku/sifat warga masyarakat dakuh kliran bermacam-macam atau berwarna-warni, sehingga dinamakan dukuh Keliran. Di dalam Dusun Keliran terdapat satu dukuh yaítu : Gemulo berasal dari kata “Gemuleng” yang berarti asap yang mengepul ngepul berkumpul menjadi satu. Maksudnya di tempat tersebut terdapat sebuah mata air yang dapat memberikan kehidupan bagi 3 (tiga ) dukuh. Untuk mengucapkan rasa terima kasih itu, maka pada saat tertentu mereka datang untuk mengadakan selamatan dan menaruh sesajen pada tempat tersebut yang sering disebut dengan “Umbul”. Banyaknya orang orang yang saling berkumpul diibaratkan seperti asap yang gemuleng, kejadian ini mengakibatkan lahirnya sebuah pedukuhan yang disebut “Gemulo”.

c. Dusun Buludendeng
Buludendeng berasal dari kata “BULU” Pohon Bulu dan “DENDENG” sejenis makanan. Buludendeng artinya seorang anak yang didendeng disebelah pohon bulu. Adapun ceritanya adalah sebagai berikut : Konon dahulu kala
hiduplah seorang ayah yang memiliki 2 (dua) orang anak, satu perempuan (kakaknya), adiknya (adiknya) masih bayi. Suatu ketika sang ayah hendak bepergian dan sebelum meninggalkan rumah beliau berpesan kepada putrinya
“anakku selama ayah tinggal pergi, adikmu ini “rumaten” (dirawat) yang baik”. Kata rumaten dikiranya “Rumaten” yang berarti ditumbuk-tumbuk/didendeng. Maka setelah sang ayah pergi, segeralah si putri tersebut menunaikan tugasnya.

Diambilnya sebilah pisau dan disembelihlah adiknya dibawah pohon bulu. Setelah disembelih, anak tersebut kemudian didendeng, yang kemudian dihidangkan kepada ayahnya sewaktu pulang. Karena badan letih dan perut lapar dimakanlah masakan dendeng tersebut dengan lahap. Selesai makan sang ayah menanyakan anak laki-lakinya kepada putrinya. Kemudian oleh putrinya tersebut dijawab, bahwa masakan dendeng yang telah dilahapnya tadi adalah berasal dari anaknya sendiri. Dari peristiwa ini oleh si bedah kerawang dijadikan dasar untuk memberikan kepada nama sebuah dusun yaitu Dusun “BULUDENDENG”. Di dalam Dusun Buludendeng terdapat satu dukuh, yaitu Rekesan berasal dari kata “REKES” ( dari bahasa Belanda ) yang artinya períjinan. Jadi terbentuknya dukuh rekesan berdasarkan ijin dari Pemerintah Belanda pada tahun 1934.

d. Dusun Gintung
Gintung berasal dari nama sejenis pohon hutan yang sangat besar. Oleh karena si Bedah Karawang pohon tersebut dinamakan pohon “Gintungan”. Dari nama pohon tersebut dijadikan sebuah dukuh yang diberi nama “Gintung”. Gintung meliputi pedukuhan Gintung dan Sambong.